Impactful Leadership

  • 3 min read
  • Nov 07, 2022
Impactful leadership

Impactful leadership adalah gaya kepemimpinan dengan menciptakan perubahan nyata, berdampak pada lingkungan sehingga bisa dirasakan oleh masyarakat. Contohnya, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin (1966-1978) adalah sosok pemimpin yang dikenang berhasil mengubah wajah ibu kota. Semua orang merasakan kehadiran gaya kepemimpinan Ali Sadikin seperti pembangunan aneka rekreasi terjangkau, pusat-pusat kreativitas anak muda, pembangunan perumahan rakyat, dan lainnya.

Ciri penting dari impactful leadership adalah warisan (legacy) sebagai buah kepemimpinannya. Tanpa warisan, orang akan sulit mengukur secara kasat mata, perubahan apa yang dihasilkan sehingga memberi dampak bagi kehidupan masyarakat. Untuk itu, tak sedikit para pemimpin berlomba-lomba menciptakan sebuah warisan kepemimpinan dalam berbagai bentuk, baik fisik maupun non-fisik.

Sayangnya, banyak para pemimpin terjebak pada upaya menciptakan warisan yang berorientasi pada pembangunan fisik semata. Mereka berusaha membangun “monumen” atau “mercusuar” yang akan memudahkan orang untuk mengingat jejak kepemimpinannya seperti pembangunan prasarana. Misalnya, seiring perilaku selfie berkembang, ada kecenderungan kepala daerah untuk mengembangkan taman-taman unik yang bisa digunakan untuk selfie-ria.

Padahal, banyak warisan kepemimpinan impactful leadership yang tidak melulu tentang infrastruktur fisik seperti pengembangan SDM. Contohnya, orang di Telkom selalu mengingat warisan Cacuk Sudarijanto bersama corporate culture di masanya. Masyarakat masih mengingat gaya Ali Sadikin yang galak tapi care terhadap urusan hidup mereka. Hoegeng dikenal karena ketaatan memegang prinsip untuk tidak conflict of interest.

Kita dipicu oleh tren gaya memimpin impactful leadership yang menghasilkan warisan fisik, padahal non-fisik tidak kalah penting.

Memimpikan Impactful Leadership

Baru beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi mempresentasikan proyek IKN ke hadapan para investor. Dengan proyek IKN ini, Jokowi seolah ingin menampilkan sisi Indonesia yang ingin berubah: dari Jawa-sentris ke Indonesia-sentris. Barangkali, ia tidak akan bisa menikmati secara langsung IKN yang dibangunnya nanti, tetapi ia tetap akan dikenang sebagai pemimpin yang mempelopori pemindahan IKN. 

Orang punya harapan bahwa Presiden Jokowi akan menjadi seorang impactful leader. Sejauh ini, orang-orang memuji kepemimpinan sang presiden karena mampu menghadirkan pembangunan infrastruktur yang dinilai penting. Tetapi, tak sedikit yang justeru mengindikasikan bahwa kepemimpinan Presiden Jokowi terlalu fokus pada infrastruktur, tetapi kualitas demokrasi, penegakan hukum, dan lainnya kurang menonjol.

Lepas dari pro dan kontra, kepemimpinan presiden Jokowi telah dinilai mampu memberi dampak besar bagi masyarakat luas.

Di sisi lain, kita juga melihat fenomena masyarakat yang memimpikan impactful leadership di bidang lain. Belum lama ini, warganet yang mencolek akun media sosial Ignatius Jonan dan Susi Pudjiastuti terkait isu tuntutan pengunduran diri Ketum PSSI. Ada alasan penting dibalik mencolek nama-nama itu, yakni aspirasi masyarakat terhadap impactful leadership. Mereka dinilai telah memiliki legacy dalam memimpin perubahan saat bertugas: Jonan identik dengan transformasi kereta api dan Susi dengan keberaniannya menenggelamkan kapal-kapal ilegal. Dua ciri legacy dari sosok-sosok itu dinilai sebagai representasi impactful leadership yang mampu mengubah keadaan.

Sangkuriang Style

Di saat ukuran impactful leadership menjadi penting, tak jarang para pemimpin mengejar target untuk menciptakan warisan kepemimpinannya, sehingga tidak sungkan membangun proyek mercusuar dalam waktu cepat laiknya di legenda Sangkuriang. Penulis menyebut ini sebagai Sangkuriang style. Iniadalah gaya memimpin mengejar hasil sebagai upaya menciptakan warisan kepemimpinan dalam waktu yang cepat mirip kisah legenda Sangkuriang. Ada banyak faktor yang mendorong gaya memimpin ala Sangkuriang seperti keinginan meresmikan warisan mercusuar di masa jabatan yang terbatas, mendapatkan pengakuan, menyaksikan warisan kepemimpinan yang akan ditinggalkan, dan lainnya.

Tidak sedikit pemimpin yang mendorong anak buahnya untuk kerja keras menghasilkan sesuatu sebagai warisan kepemimpinannya dengan mengejar tenggat waktu tertentu. Umpamanya, beberapa pengritik pejabat membangun beberapa infrastruktur yang dinilai terlalu cepat tanpa mempertimbangkan aspek-aspek non-teknis secara seksama. Tujuannya, dengan keterbatasan waktu masa jabatan, infrastruktur bisa diresmikan di masa kepemimpinan dan dinilai sebagai warisan impactful leadership. Tetapi, akibatnya, tidak jarang infrastruktur dianggap kurang maksimal.

Namun, bila kita mempelajari pola para pemimpin yang sukses, sebenarnya ciri lain seorang pemimpin impactful leadership ialah menghasilkan perubahan berkelanjutan, yang dapat diteruskan oleh penerusnya, baik berupa aspek warisan fisik maupun bersifat intangible. Contoh sederhananya, hasil transformasi di era Jonan di KAI dapat diteruskan oleh para penerusnya. Ia tidak membangun sarana fisik, tetapi mampu mengubah budaya kerja, kultur pelayanan kepada pelanggan, dan mentransformasi tata kelola serta sistem kepemimpinan di perusahaan. Dengan begitu, seorang pemimpin tidak bakal takut jika warisannya tidak dilanjutkan.